kisah menemui hidayah

Selampir Kisah Menemui Hidayah

Sebuah cerita pendek karya Mahasantriwati Ma’had Aly Ar-Rasyid, dengan judul Selampir Kisah Menemui Hidayah.

Kediaman keluarga Rahardian, Pringsewu – Lampung, 10.14 AM

Azzalea POV (Point Of View)

Terbentang jelas kota lampung, kota terbesar dan terpadat kedua dipulau sumatra setelah medan. Kota ini menjadi pintu gerbang utama Pulau Sumatra, kurang lebih 165 KM sebelah barat laut Jakarta. Dan Bandar Lampung merupakan pusat jasa, perdagangan, dan perekonomian di Provinsi Lampung.

Sebagai generasi muda, aku bisa saja membuat daftar perjalanan wisata, karena tidak sedikit pariwisata yang ada dikota ini. Terdapat banyak sekali landmark, pantai, dan beberapa bukit dengan panorama keindahannya. Sungguh, untuk mengunjungi dan menjelajahinya satu persatu bukan termasuk cita-citaku.

Hanya beberapa tempat yang bisa ku ceklist. Taman Hutan Raya Abdurrahman, aku pernah mengunjunginya bersama teman-temanku. Kami membentuk semacam komunitas akhwat untuk daerah Pringsewu dan mengikuti kegiatan outbont remaja islam di taman itu pada akhir tahun sekitar dua tahun lalu. Pantai Sari Ringgung kukunjungi bersama teman satu generasi sekolahku.

Pantai Mutun dan Taman Wisata Lembah Hijau ku kunjungi bersama keluargaku sekitar 7 tahun lalu. Kami sangat jarang berwisata bersama. Selain jarak tempuh yang jauh, mugkin uang yang digunakan lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan harian kami. 

Biar ku beritahu, aku hanayalah gadis biasa yang terlahir dari keluarga biasa, bukan keturunan ningrat ataupun kolongmerat.kami tinggal dirumah sederhana dengan letak yang agak jauh dri keramaian kota dan hingar bingarnya. Dirumah itu aku biasa membantu ibuku bersama dua adik perempuanku. Ayah tercinta kami telah meninggal dunia 12 tahun lalu. Dan baru dua tahun lalu ibuku menikah lagi.

Tak bisa kubayangkan bagaimana pedih dan beratnya menjadi orang tua tunggal untuk tiga putri sekaligus selama sepluh tahun. Aku selalu mensyukuri apapun masakannya, pemberiannya dan kasih sayang diberikan melaui limpahan limpahan nikmat Allah untuk para hambanya.

Dan telah Allah janjikan untuk para hambanya pada ayat ayat-Nya; “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu menginkari(nilmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.

Ada sebuah kata kata indah tentang bersyukur : bagiku bersyukur itu berbicara tentang banyaknya nikmat hal dan cerita. Bukan hanya sekedar menerima, karena bersyukur itu perlu memahami. Sebab dengan memahami kita akan berfikit. Sedangkan berpikir akan membuat kita mencari cara untuk semakin takjub pada setiap kekuasaan-Nya, dan hati akan merasa bahagia.

( * * * )

Author  POV (Point of View)

Siang itu seperti hari hari sebelumnya, Azzalea sedang membantu ibunya bersama dua orang adik perempuannya, tiba tiba notifikasi pada handphone Azzalea berbunyi menandakan ada pesan masuk. Tak lama, ia pun berjalan ke kamarnya hendak mengambil handphon-nya. Ternyata itu pesan masuk dari ustadz tetangganya.

“ Siapa kak yang whattsapp?” tiba-tiba saja Rachel, adik Azzalea yang paling bungsu menghampiri Azzalea. “ Mengagetkan saja kau ini, Chel”. Ungkap Azzalea. “ mengapa kau mengikuti kakak?, lebih baik kau membantu ibu lagi dibelakang.  Kakak perlu membalas pesan ini” ungkap Azzalea.

“ Kata ibu tidak apa-apa jika ingin istirahat sejenak” Ungkap Rachel. Lalu Rachel duduk mendekati kakaknya sembari menekan tombol on pada kipas angin. “ Jadi?” tanya Rachel. “ Jadi apanya?” Jawab Azzalea. Sepertinya Rachel memang benar ingin mengetahuinya.

“ Ustadz Iqbal menawarkan kakak untuk meneruskan pendidikan pesantren di jawa, Chel” Ungkapnya. “ Bukankah tahun lalu beliau juga pernah menawarkan hal yang sama? Apakah ponpes yang ditawarkannya sama dengan tahun lalu, kak? Lantas, bagaimana pendidikan kakak yang di Ponpes Al Hidayah?” Pertanyaan beruntun Rachel.

Sebelum menjawab, Azzalea mengatur pernafasannya untuk menhadapi adiknya yang paling ingn tahu banyak hal. “ Siapa yang tidak menginginkan beasiswa di Ma’had aly. Kakak sudah tentu mau” Unkapnya.

“Tetapi kau ingat kan Chel tahun lalu ibu tidak menyetujuinya. Kakak sedikit ragu untuk meminta izin pada ibu, Chel” Azzalea berbicara dengan sorot mata menerawang kejadian setahun yang lalu itu.

“Coba dulu tanyakan pada ibu, siapa tahu ia berubah pikiran, kak” Rachel menanyakan. “Tentu saja. InSyaaAllah nanti malam kakak akan membicarakan hal ini pada Ibu kita. Mungkin akan lebih jika kakak bisa mendapat izin dari ibu karena disana sekaligus kuliah” Kata Azzalea. Rachel hanya mengangguk anggukan kepala pertanda ia turut menyetujui perkataan yang baru saja Azzalea ungkapkan.

( * * * )

Jingga sudah mulai memudar, matahari sudah mulai tenggelam dan tergantikan oleh indahnya cahaya bulan. Benar, malam telah tiba dan sekaranglah waktu bagi Azzalea meminta izin kepada ibunya. Azzalea melangkahkan kakinya ke dalam kamar, ternyata ada ibu Azzalea yang sedang berbaring istirahat melepas penat setelah bekerja seharian.

“Alea, tolong pijatkan kaki ibu. Rasanya pegal sekali” Pinta ibunya.” Baiklah bu” Jawab Azzalea. Bukanlah Allah Maha Membolak Balikkan Hati HambaNya. Azzalea berguman.

Setelah beberapa saat Alea memberanikan diri. “ Ekhem, bu. Tadi siang ustadz Iqbal menawariku beasiswa kuliah dipulau jawa lagi sama seperti tahun lalu” Ungkapnya.

“ Memang tidak ada yang lebih dekat saja? Dipulau jawa terlalu jauh, nak. Coba tanyakan lagi kepada ustadz Iqbal, nak” jawab ibu Azzalea.

“ Sudah Bu. Alea sudah menanyakannya” ungkap Azzalea. Sebelumnya memang ia telah bertanya mengenai hal hal yang berkaitan dengan penawaran itu, walau hanya beberapa. Setidaknya ia bisa menjawab jika ibunya bertanya tanay. Alea tahu ibunya orang yang tegas, maka dari itu ia bersiap siapterlebih dahulu.

“ belum ada beasisa Ma’had Aly setingkat kuliah disekitaran lampung, bu” Lanjut Azzalea.” Kalau begitu lanjutkan saja di Al Hidayah. Bukankah Ustadz Ahmad mengatakan bahwa program disana minimal dua tahun” Tanya ibunya.

Hati Azzalea sedikit kecewa mendengar pernyataan ibunya yang lebih cocok disebut sebagai penolakan tersirat. Tetapi Azzalea tidak menyerah begitu saja, ia berusaha menyakinkan ibunya lagi. “ iya ibu, programnya minimal dua tahun. Satu tahun pertama mengikuti kelas bahasa arab. Dan satu tahun berikutnya untuk program tahfidz bu” jelasnya.

“ Kalau dipondok jawa, Azzalea sekaligus kuliah bu. Berbeda dengan dipondok sini. Dipondok sini alhamdilillah program program dan para penajarnya Maa Syaa Allah bagus bagus bu. Tetapi, emmm….. kalau dijawa sekaligus kuliah loh bu” Entahlah, sepertinya Azzalea gugup dan ia rasa ibunya meragukan permintaannya.

( * * * )

Keesokan paginya saat Azzalea sedang membantu ibunya, handphone-nya berdering dan ia-pun mengeceknya. Ternyata ada satu panggilan tak terjawab. “+974? Nomor dari mana?” Ia bertanya tanya pada dirinya sendiri. Sepertinya Azzalea tidak pernah memiliki teman dinegara +974. Teman Azzalea hanya dari negara +62 dan beberapa +90. Lalu ini siapa?.

Jemari jemari lentiknya mencoba browsing pada layar pencarian untuk mengobati rasa ingin tahunya. “ Qatar? Siapa?” Ia bermonolog. Tak lama, ponselnya berdering kembali dan layar ponselnya menampilkan deretan angka angka yang diawali dengan kode telepon +974 lagi. Azzalea layar ponselnya ke warna hijau tanda ia menerima panggilan.

Ia tak langsung mengucapkan suara. Kemudian dari sebrang telepon bersuara “ hallo? Assalamualaikum? Bagaimana, antum masih mondok di Al Hidayah?” Tanya orang itu spontan.

“ What? Bagaimana bisa penduduk Qatar ini mengucapkan bahasa negara kepulauan dengan sangat fasih” Lagi lagi ia bermonolog. Ia tak langsung menjawab dan malah bertanya balik, “Afwan, dengan siapa ana berbicara?”

“ Oh, Ubaydillah, pamannya Kusuma yang tinggal di Qatar” Jelasnya. Azzalea mencoba mengingatnya. “ Iya ada apa Ustadz” Tanya Azzalea. Ustadz Ubay pun menawarkan hal yang serupa. Yups, membujuknya untuk pindah ke Jawa bersama keponakannya, Kusuma.

Ustadz Ubay bertanya seperti mengintrogasinya saja, bahkan suaranya bervolume tinggi. Mungkin memang sudah dari sananya seperti itu. Beliau banyak bertanya mengenai program di Ponpes Al Hidayah dan ujung ujungnya membujuk Azzalea untuk pindah.

Jujur saja, ia-pun sangat ingin penawaran ini. Apakah Allah telah menetapkan takdir bagi Azzalea untuk tetap berada di Pondok Al Hidayah?. Tetapi bukankah sungguh Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka?

Azzalea menginginkan hal itu, tetapi Azzalea-pun tidak tahu manakah yang terbaik diantara keduanya. Saudariku, sungguh jika kita maumembuka kisah kisah dalam Al Qur’an dan lembaran lembaran sejarah, atau kita memperhatikan realitas, kita akan mendapatkan banyak pelajaran dan bukti bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap apa yang Allah takdirkan untuk hamba hamba-Nya.

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqoroh :216 ).

Tidak, sungguh bukan berarti Azzalea tak menyukai pondok Al Hidayah, tetapi setiap insan ciptaanNya pasti memiliki beberapa keinginan dalam hidupnya. Ia amat bersyukurbisa merasakan bagaimana nikmatnya menjadiseorang satri satu tahun ini. Bagaimana nikmatnya mempelajari bahasa paling indah dimuka bumi dan mengamalkannya dalam keseharian dilingkungan pesantrennya, ialah bahasa Arab.

Saat Ustadz Ubay menelpon tadi, ternyata ibu Azzalea mengetahuinya. Dan sekarang sepertinya ibunya akan menanyakannya. “ Lea, siapa yang tadi menelpon?” Tanya ibunya. “Ust Ubay bu, yang tinggal di Qatar. Beliau juga membujuk Alea bu” Ungkapnya.

Azzalea sudah tinggal bertawakal mengenaiapapun keputusan ibunya. Ia sudah berdoa dan berusaha agar setiap langkahnya dijaga kepada kebenaran. Semoga apa yanag ia inginkan tercapai, baik itu cita cita maupun keuksesan dunia dan akhirat. Dan saat ini, keputusan ibunya akan membawa langkah Azzalea selanjutnya.

( * * * )

Dimalam hari, ibu Azzalea bertanya, “ Coba Alea tanyakan lagi ke Ustadz Iqbal apa apa saja yang harus disiapkan untuk kuliah di Ma’had Aly, nak” Ujar ibunya. Azzalea terperangah diatas kursinya. “ Baiklah Bu” Ia segera spontan menjawab ibunya. Sepertinya sudah ada signal signal persetujuan.

Dan apabila hamba hambaKu bertanya kepadamu  tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaknya mereka itumemenuhi (segala perintahkan) dan hendaknya mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berdoa dalam kebenaran. (QS. Al Baqoroh : 186)

Juliana, ibu Azzalea mengizinkan putri sulungnya menempuh pendidikan dengan jarak yang sangat jauh dari kampung halamannya. Pada awalnya juliana meragukan hal ini,tetapi sepertinya banyak pihak yang mendukung permintaan putri sulungnya itu. Sebagai ibu, ia merasa jangan sampai ia menyebabkan citacita anaknya terhalang. Lagi pula, Azzalea akan tinggal diasrama khusus perempuan. Jadi, ia pun tak perlu mengkhawatirkan lebih akan kejahatan semacam itu. Dan pendidikan yang ia minati, In Syaa Allah akan membaa keberkahan didunia dan diakhirat.

( * * * )

Radin Inten II Internasioanal Airport, Natar – Lampung selatan, 06.47 A.M

Author POV (Point of View)

Tibalah Azzalea dan dua orang temannya akan melakukan perjalanan melalui jalur udara. Mereka semua diantar oleh ibu dan adik mereka. Kecuali Naura, ia akan diantarkan oleh kakeknya saja. Mereka tiba dibandara sangat pagi untuk menghindari macet dan menghindari ketertinggalan take-of.

Kemudian Azzalea, Kusuma dan Naura mencoba mencari letak ruang costumer service dengan sebelumnya bertanya pada satpam. Wajar saja, mereka bertiga baru pertama kali akan menaiki pesawat dan belum paham bagaimana letak ruangan itu.

Setibanaya diruang CS, seorang CS mengatakan kepada mereka semua bahwa keberangkatan pesawat dengan maskapai A didelay keberangkatannya menjadi pukul 02.30 pm, padahal sebelumnya pukul 08.30 am.” Lama sekali” keluh Naura.

Karena keberangkatan ditunda cukup lama, orang tua mereka memutuskan untuk pulang lebih awal, sekitar pulu; 09.00 a.m. ini menjadi perpisahan pertama bagi mereka bertiga. Tentu saja derai air mata menjadi pengiringnya. Kusuma tak bisa membendung tangisnya, tak berbeda jauh dengan Naura, mereka menagis terisak.

Azzalea, teman teman dan keluarga mereka tak melihat ia menitikkan ar mata. Tetapi sungguh bulir air matanya telah menumpuk dipelupuk mata. Namun, ada rasa yang mendorongnya untuk tetaop kuat didepan Juliana, ibunya. “ Bu, pamit yaa… ibu jangan tinggalin sholat” Hanya itu yang bisa terucap oleh bibir Azzalea. “ Iya Nak. Daoakan ibu disini supaya tetap sehat ya, jangan lupa untuk selalu berdoa” Ucap Juliana sembari memeluk dan mengecup dahi putri sulungnya. “ Assalamualaikum” Ucap Azzalea.”wa’alaikumussalam” Jawab Juliana.

( * * * )

Cukup lama mereka menungu, hingga tibalah waktu untuk mereka take-off. Ternyata mereka juga mengalami transit di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, selama dipesawat, Azzalea sangat menikmati pemandangan yang Allah suguhkan.sungguh betapa indah ciptaannya. “ Maka nikmat Tuhanmu mana lagi kau dustakan?”.

Adisumarmo International Airport, Boyolali – Jawa Tengah. 10.26 A.M

Azzalea POV (Point of View)

Kulangkahkan kakiku menju kursi diruang tunggu bandara solo itu bersama kedua temanku. Kulihat jubah bagian bawahku kotor terkena debu perjalanan. Aku tahu, bukan sia sia aku melakukan perjalanan ini, ku selalu menikmati pemandangan mengagumi nikmat Allah dan memaknai setiap perjalanan sebagai petualangan dan perjalanan hidup.

Saat aku membuka ponsel, secara kebetulan panggilan dari Ustadz Ubay masuk. “ Iya, wa’alaikumussalam. Ada apa Ustadz?” Tanyaku. “ kenapa kalian baru tiba di Solo sekarang?” Tanyanya. “Iya Ustadz, sebelumnya pesawat yang kami pesan mengalami masalah sehingga ada pergantian maskapai dan transit satu malam dibandara Soekarno-Hatta” Jelasku sekaligus.

“ Hah!?, kalian mengapa memesan pesawat yang murah?, maskapai A memang sering bermasalah” Ujarnya. “ Iya Ustadz,. Ana gak tahu Ustadz, afwan. Ustadz Iqbal  yang memesan tiketnya. Afwan Ustadz” Jelaski. Ya sudah, hati hati.dijagain Kusuma dan Naura ya” Pintanya.

“ Hahaha…” Kusuma tiba tiba tertawa. “ Memang bergaya sekali si Ubayidillah, orang kaya mah maunya yang mahal mahal” Ucap Kusuma. “ Bersyukur lita dibayarkan tiket pesawat oleh beliau, Kus. Kau ini sebagai keponakan malah menertawakannya. Astaghfirullah” Ujarku.

“ Ngomong ngomong Le, bagaimana tipe idealmu?” Celetuk kusuma tiba tiba. “ Apakah seorang hafidz Qur’an Le?” Timpal Naura. “ Bahkan ataupun bukan penghafal Al Qur’an Ra, apa pantas aku meminta? Sebab jodoh adalah cerminan diri. Lelaki itu tidak harus memliki gelar hafidz, tapi ku harap dia adalah hamba yang dekat dengan-Nya. Melalui Al Qur’an dan hafalannya, dia ikhlas agar Allah ridho terhadapnya. Meski ia tak menyandang gelar hafidz, tapi ku harap dia adalah ahlul Qur’an yang berusaha selalu dekat, mempelajarinya, mentadabburinya dan mengamalkan isi kandungan kalam suci dari Rabb kita. Bagiku, gelar hafidz dan hafidzah pun hanya bonus dari Allah” . “ Maa Syaa Allah, jelas banget deh. Oke oke, mantap Lea” Kusuma mengacungkan kedua jempolnya.

Tak lama, mobil yang menjemput kita pun tiba. Segeralah kami mengangkut barang bawaan kami. Tak banyak memang. Namun sangat cukup untuk membuat bahuku menjadi pegal linu. Kurang lebih dua jam kami baru tiba di pesantran ini.

Markaz Aitam Ar Rasyid, Manyaran, Jawa Tengah, 01.23 P.M

Alhamdulillah, kami tiba ditujuan degan selamat. Disinilah aku, Azzalea El-Qibtiyyah akan belajar mengejar kalam suci dari-Nya, meresapinya bagai butiran ketenangan yang menyatu dan tak ku temukan daripada selainnya. Aku ingin mengkolaborasikan sifat sifat wanita pada jaman Rasullah. Akhlak yang semulia Khadijah, setaqwa Fatimah, secerdas Aisyah juga seberani Khaulah binti Azur.

Sejak dulu sampai sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikroh, pemudah adalah pengibar panji  – janjinya (Hasan Al Bana).

Aku dan kamu statusnya masih sama, sama sama hamba. Hamba dari ang Maha Kaya, Maha Kuasa dan Sempurna. Sungguh sebaik baik diriku lebih baik dirimu dam seburuk buruknya dirimu lebih buruk diriku.

Jangan tertipu dengan pencitraanku, karena jika Allah menampakkan aibku, maka tak ada seorangpun yang sudi berdekatan dengan ku. Aku ingin mendakwahkan syariatNya. Dakwah itu penuh derai air mata, Allah mengujimu agar kau berlelah lelah dijalanNya.

Dakwah bisa saja meminta apapun darimu, apa saja milikmu, sebab cinta dalam jalan dakwah adalah rela. Cinta adalah pengorbanan. Jika kau mengaku cinta, pertanyaanya, siapkah kau berkorban untuk Allah ?

Oleh: Putri Dewi Permatasari

× Kontak kami