persatuan

Menjaga Persatuan tidak Menafikan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Ma’asyiral muslimin, sebagaimana kita ketahui, Islam melarang perpecahan dan fanatik golongan (ta’ashub). Sebaliknya, Islam mengajak manusia kepada persatuan, yang dibangun di atas keimanan, tauhid dan asas-asan kebenaran dengan berpijak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman para sahabat dan salafush shalih.

Persatuan yang dimaksud bukan sekedar persatuan badan dan perkumpulan, akan tetapi lebih kepada persatuan hati dalam beraqidah dan menjalani hidup ini dalam bingkai Islam.

Persatuan yang dimaksud bukanlah persatuan semu sebagaimana orang-orang Yahudi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى

“Kamu kira mereka bersatu, padahal hati mereka terpecah belah” [QS. Al-Hasyr: 14]

Maka dari itu, untuk menggapai persatuan hakiki tetap perlu ditegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena tidak mungkin manusia bersatu tanpa melarang mereka dari perbuatan syirik, bid’ah, maksiat dan penyimpangan lainnya.

Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla serukan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian dahulu (pada masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” [QS. Ali Imran: 103]

Ma’asyiral muslimin, di ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa dahulu kaum Anshar (dari suku Aus dan Khozroj) berpecah-belah, kemudian Allah satukan hati mereka dengan Islam. Dahulu mereka berada di tepi jurang neraka akibat kemaksiatan, lalu Allah selamatkan mereka dengan petunjuk-Nya, yang tidak lain adalah melalui perantara dakwah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa membangun persatuan senantiasa beriringan dengan proses perbaikan dengan ditegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Persatuan tanpa diiringi amar ma’ruf nahi munkar, adalah persatuan semu sebagaimana yang telah disampaikan tadi.

Ma’asyiral muslimin, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan gambaran pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dengan sebuah perumpamaan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” [HR. Bukhari no. 2493].

Ma’asyiral muslimin, Itulah pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, yakni: menjaga seluruh umat agar sama-sama selamat sampai tujuan, yakni surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang perlu digarisbawahi, bahwa amar ma’ruf nahi munkar, atau yang biasa kita sebut dengan dakwah, bukanlah tugas khusus bagi para kiayi atau ustadz. Setiap diri kita memiliki kewajiban berdakwah sesuai kedudukan dan kemampuan masing-masing. Jika kita mampu dan kuasa, kita dakwahi masyarakat secara luas. Jika tidak mampu kita dakwahi warga kita satu RW, atau satu RT, atau satu lingkup komunitas, atau minimal kita dakwahi keluarga kita masing-masing.

Dengan tegaknya dakwah pada setiap keluarga muslim, niscaya akan terbentuk masyarakat yang Islami, sehingga tercapailah persatuan hakiki, yakni: persatuan yang dibangun di atas keimanan, keislaman dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada akhirnya semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah dan taufiq-Nya, untuk senantiasa istiqomah di atas petunjuk Al-Qur`an dan petunjuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

× Kontak kami